10 Paradoxes

Mihaly menyatakan ada 10 sikap paradok yang dimiliki oleh orang-orang Kreatif.

Berikut ini adalah 10 sikap paradok yang dinyatakan oleh Mihaly dan dibawah pernyatannya ada komentar dan pendapat pribadi saya :

1. Creative people have a great deal of physical energy, but they’re also often quiet and at rest.

Tentu saja tidak perlu dipertanyakan lagi bahwa orang kreatif butuh energi banyak, entah itu untuk energi di otaknya atau energi di ototnya..yang jadi paradoks disini adalah terkadang kreativitas butuh sesuatu yang tenang.. Ada kalanya kita butuh adrenalin yang tinggi yang membutuhkan energi yang banyak untuk memunculkan kreativitas, tetapi tidak semua kreativitas bisa muncul pada kondisi tersebut. Kreativitas butuh juga pemikiran yang tenang, tempat yang nyaman dan sepi, bahkan pada saat kita tidur (mungkin dalam mimpi kita) kreativitas bisa tiba2 saja muncul

2. Creative people tend to be smart yet naive at the same time.

Pada saat yang bersamaan kita butuh pemikiran yang cerdas untuk menimbulkan kreativitas, tetapi yang menjadi hal paradoks, kita juga butuh sifat lugu, dengan keluguan kita akan menerima sebuah ide tanpa pandang bulu, tanpa ada pertimbangan, tanpa ada pertanyaan “Apakah ide ini bisa diaplikasikan? Apakah ide ini menarik untuk orang lain?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak akan muncul mana kala kita bersifat polos/ lugu, disisi lain kita harus cerdas, mengeluarkan ide-ide kreatif yang segar..Yang jadi bahan pertimbangan bagi kita adalah porsi cerdas dan lugu harus imbang, dan kadangkala salah satu harus berperan lebih besar. Insting kitalah yang mengatur semua itu.

3. Creative people combine playfulness and discipline, or responsibility and irresponsibility.

Hal ini mirip dengan yang point dua. Seorang yang kreatif memang harus menggabungkan dua sifat yang paradoks dan yang menjadi point dalam hal ini adalah bagaimana porsi penempatan sifat tersebut. Terkadang kita harus disiplin agar ide kreatif kita tidak menjadi “omong kosong” belaka dan kita juga harus menjadi orang yang menyenangkan, yang keluar dari jalur-jalur disiplin.

4. Creative people alternate between imagination and fantasy, and a rooted sense of reality.

Sebagai orang yang kreatif terkadang ide-ide yang muncul benar-benar gila, tidak masuk akal, di luar akal sehat manusia. Hal ini memang dianjurkan agar ide-ide kita tidak terkungkung pada suatu batasan-batasan tertentu. Tapi kita juga harus menyadari adanya kenyataan dibalik ide kita, kita harus bertanya pada diri kita “Apakah ide ini bisa di aplikasikan? Apakah ide ini bisa direalisasikan pada jaman ini?”

5. Creative people trend to be both extroverted and introverted.

Pada kondisi-kondisi tertentu, seorang kreatif membutuhkan bantuan teman-temannya untuk mewujudkan ide-idenya, atau untuk membantu dia menyegarkan pikirannya. Tetapi ada saatnya juga untuk dia mengisolasi diri dari lingkungan sosialnya untuk membantunya mengeluarkan ide kreatifnya.

6. Creative people are humble and proud at the same time.

Seorang yang kreatif butuh pengakuan dari orang lain, pengakuan bahwa idenya memang keren, bagus. Pengakuan ini dia butuhkan untuk membentuk kepercayaan dirinya agar bangga terhadap dirinya, dan tidak menjadi rendah diri. Supaya terus menelurkan ide-ide kreatif lain. Tapi pada saat yang bersamaan, jauh di dalam hatinya, seorang yang kreatif harus mempunyai rasa rendah diri terhadap Tuhan, kebanggaan terhadap dirinya mempunyai sebuah batasan,  bahwa ada orang yang lain yang lebih kreatif dari dirinya dan di atas itu semua ada Tuhan yang memberikan rahmat berupa kreativitas, sifat ini dia butuhkan agar dia tidak menjadi sombong atau tinggi hati.

7. Creative people, to an extent, escape rigid gender role stereotyping

Saya tidak menyetujui point 7 ini. Menurut saya sebagai pemimpin yang kreatif tidak perlu mengkotak-kotakan orang/bawahan secara gender.

8. Creative people are both rebellious and conservative.

Sifat permberontak perlu dalam seseorang yang kreatif agar ide-idenya tidak terkungkung dalam suatu batasan-batasan tertentu, tetapi harus konservatif juga agar ide tersebut tidak keluar jalur terlalu jauh sehingga tetap bisa diterima masyarakat.

9. Most creative people are very passionate about their work, yet they can be extremely objective about it as well.

Saya tidak menyetujui pendapat Mihaly yang point 9 ini. Menurut saya hal itu bukan merupakan suatu hal yang paradox.

10. Creative people’s openness and sensitivity often exposes them to suffering and pain, yet also to a great deal of enjoyment.

Jika kita menderita maka pikiran untuk bertahan hidup, pikiran kreatif akan muncul, sehingga sifat ini sangat diperlukan, tetapi kita perlu juga hidup menyenangkan agar tidak terus-terusan di bawah tekanan, karena bila hidup dibawah tekanan secara terus menerus justru akan mematikan otak kreatif kita.

From Creativity: The Work and Lives of 91 Eminent People, by Mihaly Csikszentmihalyi, published by HarperCollins, 1996.

Leave a comment »

Bisnis AstroCamp

Ide saya yang berikut berkaitan dengan jurusan saya, yaitu astronomi. Ide saya berkaitan dengan jasa yang bernama AstroCamp. Akhir-akhir ini banyak sekali sekolah-sekolah dan perusahaan yang datang ke himpunan mahasiswa astronomi untuk mengadakan AstroCamp, biasanya AstroCamp banyak dilakukan pada bulan-bulan kering karena pada AstroCamp tersebut akan dilakukan pengamatan langit malam. Di AstroCamp kegiatan yang pada umumnya dilakukan adalah pengamatan langit malam, nonton film astronomi, games-games astronomi, simulasi astronomi, pemberian materi. Kegiatannya bisa bermacam-macam, tergantung tujuan yang akan dicapai oleh penyelenggara. Karena banyaknya permintaan terkadang himpunan mahasiswa astronomi menolak kegiatan AstroCamp. Dari situ saya melihat bahwa hal ini bisa juga dijadikan ide bisnis jasa.

Leave a comment »

Pribadi yang Kreatif

“Kreativitas merupakan ciri dari tokoh-tokoh dunia yang telah mengaktualisasikan dirinya” kata Abraham Maslow. Sifat kreatif nyaris memiliki arti sama dengan kesehatan, aktualisasi diri dan sifat manusiawi yang lengkap. Sifat-sifat dikaitkan dengan kreativitas ini adalah fleksibilitas, spontanitas, keberanian, berani membuat kesalahan, keterbukaan dan rendah hati. Kreativitas tokoh-tokoh dunia ini dalam banyak hal mirip dengan kreativitas anak-anak sebelum mereka mengenal takut pada ejekan orang lain, mereka masih melihat masalah secara segar tanpa prasangka. Menurut Maslow sifat-sifat ini merupakat sifat-sifat yang sering hilang setelah orang menjadi dewasa.  Orang yang mengaktualisasikan diri tidak kehilangan pendekatan yang segar dan naïf ini, atau jika harus kehilangan, mereka akan mendapatkannya kembali dikemudian hari.  Hampir setiap anak mampu membuat lagu, puisi, lukisan, tarian, cerita atau permainan secara mendadak, tanpa direncanakan atau didahului oleh suatu maksud sebelumnya. George Land melaporkan dalam Break-Point and Beyond, bahwa kreativitas anak usia 5 tahun mencetak skor 98 %, anak usia 10 tahun mencetak skor 32 %, anak usia 15 tahun mencetak skor 10 %, dan orang dewasa usia 42 tahun mencetak skor hanya 2 %.

Spontanitas juga hampir memiliki arti yang sama dengan kreativitas. Orang-orang yang mengaktualisasikan diri lebih, tidak malu-malu karenanya, lebih ekspresif, wajar dan polos. Biasanya mereka tidak perlu menyembunyikan perasaan-perasaan atau pikiran-pikiran mereka atau tingkah laku yang dibuat-buat. Kreativitas menuntut kebranian, kemampuan untuk bertahan, mampu mengabaikan kritikan serta cemoohan dan mampu untuk menolak pengaruh kebudayaannya sendiri. Setiap tokoh telah memberikan bukti tentang unsur keberanian yang dibutuhkan dalam saat-saat penciptaan yang sunyi, saat mengukuhkan sesuatu yang baru. Ini sejenis kenekatan, suatu lompatan ke depan sendirian, suatu pemberontakan atau suatu tantangan. Tokoh-tokoh tersebut juga mengalami rasa takut, tetapi rasa takut tersebut dapat diatasi agar terbuka kemungkinan ke arah penciptaan. Sekalipun rendah hati terhadap gagasan baru serta cepat mengakui ketidaktahuan maupun kesalahan, tetapi tetap mempunyai pendirian teguh dan rela mengorbankan popularitasnya demi membela sebuah gagasan baru. Mereka penuh percaya diri dan memiliki harga diri, sehingga dapat lebih memusatkan perhatian pada tugas yang harus diselesaikan daripada mempertahankan ego mereka sendiri.

Mereka tidak takut melakukan kesalahan-kesalahan, termasuk kesalahan bodoh. Mereka berpikir ”gila-gilaan” sebagai orang yang kreatif.  Mereka fleksibel, mampu menyesuaikan diri bila situasinya berubah, mampu menghentikan kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik, mampu menghadapi kebimbangan serta perubahan-perubahan kondisi tanpa mengalami ketegangan yang tidak perlu dan tidak merasa terancam oleh apapun dan siapapun. Mereka pekerja keras, mempunyai banyak inspirasi dan menghasilkan karya nyata yang mendunia. Mereka selalu bekerja keras, disiplin dan latihan.   Menjadi anak-anak yang tanpa dosa, melihat dunia dengan mata lebar, tidak mengenal rasa takut pada ejekan, kesalahan kegagalan yang dipandu oleh kecerdasan spiritual akan menjadikan Anda sebagai orang yang sangat kreatif di level tertinggi.

Penulis : M. Suyanto , Ketua STMIK AMIKOM

Saya suka sekali membaca tulisan dari M Suyanto di atas, saya cenderung menyetujui tulisannya. Kebetulan saya sempat aktif di salah satu unit di salman yang membina adik-adik TK dan SD. Dari sana saya melihat anak-anak tersebut sangat energik, mereka seperti tidak pernah kehabisan energi. Itu hanya dari segi fisiknya saja, dari segi mental mereka juga sangat kreatif. Terkadang mereka melakukan hal-hal di luar dugaan saya, di luar ide-ide saya dan terkadang mereka bertanya hal-hal yang susah untuk dijawab. Saya banyak belajar dari mereka, walaupun umur saya beda jauh dengan mereka tetapi ada kalanya mereka yang jadi inspirasi saya. Jadi tulisan di atas benar-benar mengingatkan saya ketika mentoring di salman bersama adik-adik.

Leave a comment »

Iklan-iklan Kreatif

Leave a comment »

bagaimana caranya kreatif?

Leave a comment »

Fresh Resto : Kami Panen Hari ini Besok Anda Makan

Sebuah ide kreatif tentu saja tidak hanya berbentuk sebuah barang/ produk tetapi bisa juga ide bisnis. Kali ini saya akan menceritakan ide bisnis yang sudah lama saya inginkan. Idenya bermula ketika saya jalan-jalan ke Little Farmer di daerah Lembang. Little Farmer adalah sebuah tempat pertanian kecil, didalamnya ada sayur-sayuran, hewan-hewan ternak yang bertujuan selain memproduksi hasil pangan juga edukasi ke anak-anak bagaimana cara memanen, menanam, dll. Pada akhir kunjungan setiap orang diberikan hasil panen dari Little Farmer, waktu itu saya mengambil Pak Coy, sayuran hijau yang mirip dengan bayam dengan ukuran yang lebih kecil. Ketika sudah sampai di kostan saya memasak Pak Coy itu dengan mie instan. Lalu saya cicipi kuah mie instan tersebut, rasanya Ruarr Biasaaa…sangat lezat, segar pokoknya beda sekali dengan mie instan biasa. Kemudian saya coba Pak Coy-nya, nyam-nyam sangat lezat… 2 hari kemudian di supermarket saya membeli Pak Coy, saya sudah tidak sabar ingin memasaknya kembali dengan mie instan. Ketika sampai kostan langsung saya masak, lalu saya makan..tetapi rasanya beda sekali. Seperti mie-mie instan yang biasa saja. Lalu saya bertanya-tanya,mengapa bisa beda sekali. Ternyata karena Pak Coy yang pertama adalah sayuran yang baru di panen..Fresh….

Dari hal itu saya berfikir untuk membuka Resto kecil dari sayur-sayuran segar. Menunya tentu saja yang berhubungan dengan sayur-sayuran seperti mie ayam, bakso, capcay, dll. Dan sistemnya adalah bisnis dari hulu ke hilir, jadi harus punya pertanian sendiri. Selain rasanya lezat, resto ini harus sehat. Sayurannya harus organik, tidak memakai pestisida. Sistem yang digunakan pada pertaniannya bisa hidroponik atau ekofarming. Daerah pertanian bisa di daerah lembang atau sersan bajuri sehingga biaya transportasi tidak terlalu mahal. Letak resto ini di dekat pusat-pusat keramaian yang terletak di kota bandung. Karena harus dekat dengan pertaniannya maka di kota-kota besar seperti Jakarta tidak mungkin membuka resto ini. Sedangkan di restonya sendiri, saat pembuatannya pun juga harus sehat, tidak memakai vetsin dan bahan-bahan lain yang mengandung pengawet. Meskipun mungkin harganya lebih mahal tetapi karena kelezatan dan kesehatannya dijamin resto ini pasti ramai dikunjungi orang.

Comments (2) »

Pigura Dinamis

Biasanya ketika saya mengeprint beberapa foto digital kegiatan, saya kebingungan karena harus membeli banyak pigura kecil-kecil. Sedangkan foto-foto yang saya print, saya ingin pajang di dinding kamar. Tetapi saya harus membeli banyak pigura-pigura kecil. Akhirnya saya mendapatkan ide bagaimana jika ada sebuah pigura dinamis yang bisa kita susun sesuai keinginan kita. Jadi pigura itu berbentuk seperti puzzle. Kerangaka pigura tersebut berukuran besar seperti A3 atau A2 didalamnya kosong lalu bisa ditempelin kerangka-kerangka kecil sesuai keinginan, baru dipasangi fotonya. Didalam satu pigura tersebut bisa terdapat banyak foto dengan ukuran yang berbeda-beda. Tetapi ketika saya fikir kembali ternyata ada ide yang lebih efisien. Sebelum foto tersebut di print, foto-foto yang akan dipajang di pilih terlebih dahulu lalu dimasukkan ke software photoshop lalu kita bisa merubah ukuran masing-masing foto dan menyatukannya sesuai keinginan kita dan bisa kita print dalam ukuran A2 atau A3. dan tetap sesuai tujuan awal =). Ternyata ada hikmah yang bisa saya ambil, ide sehebat dan sekreatif apapun ternyata kita harus memikirkannya lagi karena tujuan awal dari ide-ide tersebut adalah mempermudah kegiatan kita, bukan menjadi tambah susah. Jadi sebuah ide kreatif haruslah efektif dan efisien.

Leave a comment »